Sabtu, 17 Januari 2009

Terpadat di dunia (?)

Saya pernah keliling di delta sungai Cikapundung ini. Rupanya di delta itu ada 2 RT, yang dihuni penduduk dengan kepadatan luar biasa. Di dalam kawasan pemukiman padat itu, sirkulasinya berupa lorong2 kecil, cukup untuk dilewati motor atau dua orang bersimpangan. Bahkan di beberapa titik/ruas jalan untuk orang bersimpangan saja susah.

Sinar matahari tentu saja teramat langka untuk bisa masuk sampai ke dalam rumah. Maka pada siang hari pun lampu listrik masih sering dinyalakan. Belum lagi ada rumah2 yang meski ukurannya kecil, dihuni hingga 2 atau 3 keluarga. Secara fisik, tidak adakah program pemerintah untuk memperbaiki kondisi lingkungan fisik seperti ini?



Senin, 05 Januari 2009

Cikapundung oh Cikapundung

Para pembaca yang budiman tentu miris melihat kondisi Sungai Cikapundung ini. Airnya kotor, sampah di mana-mana, kumuh-jorok, dan tentu saja tidak nyaman dilihat. Budaya masyarakat kita memang belum beranjak dari sungai adalah tempat membuang kotoran atau sampah. Dengan kata lain masyarakat kita masih mengganggap sungai adalah "bagian belakang". Para pengelola dan pengambil kebijakan kota ini juga tidak/belum ada kepedulian atau bahkan tidak ada keseriusan untuk mengelolanya dengan baik.



Gampang kok menilai kota itu terkelola dengan baik atau tidak. Kondisi sungai yang mengalir dalam kota adalah salah satu indikator terpenting. Kalau sungai dalam kota itu bersih pastilah kota itu terkelola dengan baik, warganya juga teratur, berbudaya, tingkat peradabannya tinggi, dll. Tetapi kalau sungai yang mengalir dalam kota itu jorok, kotor, kumuh, bahkan bau, tentu saja kebalikannya. Silahkan menilai sendiri.



Minggu, 04 Januari 2009

Kontradiktif (1)

Sebagai postingan pertama, di sebuah senja beberapa waktu lalu saya sengaja jalan-jalan di sepanjang Sungai Cikapundung sekitar bawah Jembatan Pasupati. Sebuah pemandangan yang kontras/kontradiktif antara bagian atas dan bawahnya. Bagian atas seakan menjadi kebanggaan baru (meski bermasalah) dengan bagian bawahnya yang tidak teratur, semrawut, dan ruang-ruang yang hilang atau mubadzir karena tidak ada perencanaan yang baik.





Di sepanjang bantaran sungai ini khususnya bawah Jembatan Pasupati, kita akan temui rumah-rumah yang berdiri apa adanya, semi permanen, dan tentu saja kumuh. Tidak ada aturan sempadan sungai di sini. Benar, (mungkin) ada aturan yang disusun dan ditetapkan oleh mereka para penentu kebijakan, namun realitasnya memang tidak ada aturan apa-apa di sini. Siapa saja dan kapan saja orang bisa membuat rumah/bangunan dan kandang-kandang ternak di sini. Tak heran, alih2 mengatur lanskap, tanaman, kualitas air, dll, dll, berbagai bentuk kotoran atau sampah bisa anda temui di sepanjang sungai ini.

Salam Bandung!

Blog ini tentang tentang sebuah kota yang konon dulu sejuk, nyaman, teratur, indah, bernama Bandung. Namun, saya melihat, membaca dan mengamati begitu banyak tumpukan masalah yang ada di kota ini. Di blog ini akan bertahap dan rutin saya sajikan untuk anda baik rekaman berupa foto-foto (sebagian besar foto saya sendiri) maupun tulisan. Pendeknya, blog ini adalah tempat sharing keprihatinan saya dan tempat/sarana pendidikan publik yang bebas agar menggugah kepedulian para pembaca khususnya warga Kota Bandung (dan para pengambil kebijakannya!) terhadap kotanya sendiri. Selamat menikmati.